JAKARTA, PUNGGAWAFOOD — Sebuah lapak sarapan pagi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mendadak menyedot perhatian publik karena penggunaan singkatan yang tak lazim. Berlokasi di depan Lapangan PSPT Tebet, lapak ini menampilkan akronim “MBG”, “BGN”, dan “SPPG” di spanduk hingga akun media sosialnya. Meski identik dengan istilah yang tengah ramai dibicarakan, singkatan tersebut ternyata tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis milik pemerintah.
Alih-alih merujuk pada kebijakan resmi, pemilik usaha mengolah istilah itu menjadi jargon kreatif. “MBG” dimaknai sebagai Mantap Banget Gila, “BGN” diartikan Badan Ganjel Nyarap, sementara “SPPG” dipelesetkan menjadi Solusi Perut Paling Gawat. Strategi ini terbukti efektif menarik perhatian masyarakat, terutama kalangan pelajar dan pengguna jalan yang melintas.
Pantauan di lokasi sejak Rabu pagi menunjukkan lapak ini mulai ramai didatangi pembeli. Dengan harga terjangkau sekitar Rp12.000, pelanggan dapat memilih berbagai menu, mulai dari roti hingga nasi chicken katsu yang dikemas praktis. Minuman pendamping juga tersedia dalam beragam pilihan.
Zainurrahman (29), pemilik lapak, mengungkapkan ide usaha tersebut lahir secara spontan bersama dua rekannya. Gagasan muncul usai mereka berkumpul pada malam hari, lalu berkembang menjadi rencana bisnis sederhana yang langsung dieksekusi dalam hitungan hari. Pemilihan nama pun, kata dia, sengaja menumpang tren istilah yang sedang populer agar mudah dikenali publik.
Menurut Zainur, pendekatan itu terbukti ampuh sebagai strategi pemasaran awal. Rasa penasaran konsumen menjadi pintu masuk untuk menarik pembeli mencoba produk mereka. Bahkan, pada hari-hari pertama, banyak pelajar datang sekadar ingin mengetahui konsep di balik nama unik tersebut.
Tak hanya mengandalkan nama, mereka juga memperkuat promosi lewat pembuatan logo dan jingle khusus untuk media sosial. Upaya ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun identitas usaha yang mudah diingat.
Zainur menegaskan, dirinya dan rekan-rekannya tidak memiliki keterkaitan dengan program pemerintah maupun lembaga terkait. Mereka juga bukan bagian dari dapur resmi program mana pun. Seluruh produk yang dijual merupakan hasil titipan warga serta sebagian dibeli dari pasar tradisional.
Konsep kolaboratif itu, menurut dia, sekaligus menjadi cara memberdayakan pelaku usaha rumahan di sekitar lokasi. Dengan memanfaatkan momentum tren dan kreativitas dalam pemasaran, lapak sederhana ini kini berhasil mencuri perhatian di tengah persaingan bisnis kuliner ibu kota.

Tinggalkan Balasan