BELITUNG, PUNGGAWANEWS – Tidak banyak kedai kopi yang mampu bertahan lebih dari tujuh dekade tanpa kehilangan jati dirinya. Kong Djie, kedai kopi sederhana di Tanjung Pandan, Belitung, adalah satu dari yang sedikit itu. Berdiri sejak 1943, kedai ini bukan sekadar tempat minum kopi — ia adalah bagian dari memori kolektif warga Belitung yang terus hidup hingga hari ini.
Belitung memang bukan daerah penghasil kopi. Tidak ada kebun kopi yang tumbuh di pulau yang lebih dikenal lewat timah dan lada putihnya ini. Namun justru di sinilah paradoksnya: meski tidak menanam, Belitung punya budaya ngopi yang mengakar kuat, dan Kong Djie adalah simbol paling nyata dari tradisi itu.
Kedai ini terletak di jantung kota Tanjung Pandan. Bangunannya sederhana, jauh dari kesan modern yang kini marak di kedai kopi kota besar. Tapi kesederhanaan itulah yang justru menjadi daya tariknya. Pengunjung tidak datang untuk estetika foto, mereka datang untuk rasa dan suasana yang otentik.
Racikan kopi Kong Djie menggunakan campuran 80 persen Robusta dan 20 persen Arabica. Komposisi ini dipilih dengan cermat — Robusta memberikan tubuh dan kekuatan rasa, sementara Arabica menyumbang sedikit keasaman yang membuat kopi terasa lebih hidup di lidah. Bahan bakunya didatangkan dari Lampung, salah satu sentra kopi terbesar di Indonesia.
Proses pembuatannya tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Bubuk kopi dimasukkan ke dalam ceret besar, lalu disiram air mendidih — benar-benar mendidih, bukan sekadar panas — agar bubuk kopi matang sempurna dan larut merata. Setelah diaduk, kopi siap disajikan. Sederhana, tapi menghasilkan cita rasa yang sulit ditiru mesin espresso mana pun.
Ciri khas Kong Djie yang paling ikonik adalah tiga ceret besar yang selalu tampak mengepulkan uap panas. Dulu, ceret yang digunakan berukuran kecil dan ditempatkan di dekat jendela. Kini, tiga ceret jumbo itu telah menjadi simbol kedai sekaligus penanda keberadaan Kong Djie di seantero Tanjung Pandan.
Barista di sini bukan sekadar pembuat kopi. Mereka hafal pesanan pelanggan setia tanpa perlu bertanya. Seorang pelanggan lama cukup duduk, dan secangkir kopi sesuai kebiasaannya sudah tersaji di meja. Kopi susu untuk yang satu, kopi hitam pahit untuk yang lain. Keakraban semacam ini nyaris tidak mungkin dijumpai di kedai kopi modern.
Harganya pun jauh dari kata mahal. Dengan merogoh kocek beberapa ribu hingga belasan ribu rupiah, segelas kopi lezat sudah bisa dinikmati. Bisa disajikan panas atau dingin, dengan gula saja atau dengan susu kental manis. Pilihan ada di tangan pelanggan, bukan di menu yang penuh jargon asing.
Lonjakan popularitas Kong Djie tidak bisa dilepaskan dari film Laskar Pelangi yang meledak pada 2008. Film itu membuka mata dunia bahwa Belitung bukan hanya pulau penghasil timah, melainkan destinasi wisata dengan pesona alam dan budaya yang kaya. Sejak itu, arus wisatawan yang masuk ke Belitung terus meningkat, dan Kong Djie ikut merasakan dampaknya.
Wisatawan yang datang kini tak hanya minum kopi di tempat. Mereka juga membeli bubuk kopi kemasan sebagai oleh-oleh khas Belitung. Satu bungkus kopi Kong Djie menjadi cara untuk membawa pulang sepotong kenangan dari pulau yang punya keindahan tak biasa itu.
Di luar kopi racikan aslinya, ada inovasi yang menarik perhatian dari Belitung: kopi lada hitam. Sejak Maret 2018, seorang produsen lokal mencoba memadukan dua komoditas khas pulau ini — kopi dan lada hitam — menjadi satu minuman yang tidak biasa. Satu kilogram kopi dicampur dengan 100 gram lada hitam, menghasilkan minuman dengan karakter rasa yang kompleks: pahit dari kopi, pedas tajam dari lada.
Inovasi ini lahir dari kebutuhan untuk mendongkrak popularitas lada hitam Belitung. Menariknya, lada hitam di sini sempat dianggap sebagai “lada gagal” oleh sebagian petani yang lebih akrab dengan lada putih. Namun kini, lada hitam Belitung justru banyak dicari.
Kopi lada hitam disarankan diseduh hanya dua sendok teh per cangkir, mengingat rasa pedasnya yang cukup dominan. Tambahan krimer atau susu kental manis membuat minuman ini lebih seimbang — ada manis, ada pahit, dan ada sensasi pedas yang menyebar pelan-pelan di mulut. Cocok dikonsumsi saat cuaca dingin atau untuk yang kerap masuk angin.
Dalam sebulan, produsen kopi lada hitam Belitung mampu menghasilkan sekitar 200 toples kopi. Harga jualnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp90.000 per toples di toko oleh-oleh. Produk ini tidak hanya beredar di Belitung, tapi juga dikirim ke Jakarta dan kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Kisah Kong Djie dan kopi lada hitam Belitung adalah dua sisi dari satu koin yang sama: sebuah pulau yang tidak menanam kopi, tapi justru memiliki budaya kopi yang begitu kaya dan kreatif. Satu bertumpu pada tradisi yang dijaga selama 75 tahun, satu lagi lahir dari semangat inovasi yang mempertemukan dua rempah dalam satu cangkir.
Keduanya layak untuk dicoba — tidak harus terbang ke Belitung sekarang, karena produk-produk ini sudah bisa ditemukan di berbagai penjuru Indonesia. Tapi merasakannya langsung di Tanjung Pandan, sambil duduk di kedai tua yang ditemani uap panas dari ceret besar, tentu pengalaman yang berbeda.
FAQ
Apa yang membuat Kong Djie berbeda dari kedai kopi modern?
Kong Djie menawarkan pengalaman ngopi yang personal dan otentik — barista hafal pesanan pelanggan setia, suasana sederhana dipertahankan, dan harga sangat terjangkau, berbeda jauh dari kedai kopi modern yang cenderung impersonal dan mahal.
Apa itu kopi lada hitam Belitung dan bagaimana cara menyeduhnya?
Kopi lada hitam adalah inovasi lokal yang memadukan bubuk kopi dengan lada hitam dalam komposisi 1 kg kopi berbanding 100 gram lada. Disarankan cukup 2 sendok teh per cangkir, dan lebih nikmat bila ditambah krimer atau susu kental manis untuk menyeimbangkan rasa pedas dan pahitnya.
Apakah produk kopi khas Belitung bisa dibeli tanpa harus ke Belitung?
Ya, bubuk kopi Kong Djie dan kopi lada hitam Belitung sudah tersedia dalam kemasan oleh-oleh dan telah didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.

Tinggalkan Balasan