PINRANG, PUNGGAWAFOOD – Aroma kopi yang mengepul dari cangkir-cangkir panas di Warkop Cikiang, Pinrang, Sulawesi Selatan, bukan sekadar minuman biasa. Di balik setiap tegukan tersimpan sejarah panjang yang melewati zaman kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga era digital—lebih dari seratus tahun tanpa jeda.
Warung kopi ini berdiri di Jalan Poros Pinrang-Polman atau Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sawito, Kecamatan Watang Sawito, Kabupaten Pinrang. Lokasinya strategis, tepat di jalur utama yang menghubungkan dua kabupaten di Sulawesi Selatan, membuat warkop ini menjadi titik singgah alami bagi siapa saja yang melintas.
Yang membuat Warkop Cikiang bukan sekadar warung biasa adalah umurnya yang melampaui kemerdekaan Republik Indonesia. Didirikan oleh seorang pria bernama Tamfimin—yang akrab dipanggil warga sekitar sebagai “Pimping”—warung kopi ini mulai menyeduh kopi dan menghidangkan roti kaya jauh sebelum bendera merah putih pertama kali berkibar pada 1945.
Tamfimin adalah sosok yang keras namun berdedikasi. Di masanya, ia dikenal bukan hanya sebagai perintis warkop, tetapi juga sebagai pesepak bola yang pernah bergabung dengan Perspin—Persatuan Sepak Bola Pinrang. Di tengah kesibukannya di lapangan hijau, ia tetap mengelola usaha kopinya yang kala itu dikenal masyarakat lokal dengan nama Warkop Ming.
Kopi dan bola, dua hal yang tampak berbeda, nyatanya berjalan beriringan dalam hidup Tamfimin. Warung kopi itu tumbuh perlahan, dikenal dari mulut ke mulut, menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kalangan. Kedisiplinan yang ia terapkan dalam olahraga juga tercermin dalam cara ia mengelola usahanya—detail, konsisten, dan tidak mudah berkompromi dengan kualitas.
Memasuki dekade 1950-an, tongkat estafet usaha berpindah tangan. Tamfimin menyerahkan pengelolaan warung kepada putranya, Cikiang, yang kemudian menjadi generasi kedua penerus bisnis keluarga ini. Di bawah tangan Cikiang, warkop terus bertahan dan berkembang, mempertahankan cita rasa kopi tradisional yang sudah menjadi identitas keluarga.
Nama “Cikiang” pun akhirnya diabadikan sebagai nama warung. Bukan sekadar nama, melainkan penghormatan kepada sosok yang menjaga warisan sang ayah tetap hidup di tengah perubahan zaman yang terus bergolak.
Kemudian tibalah giliran generasi ketiga. Sejak 2007, Nilawati Tamrin—cucu perempuan Tamfimin yang akrab disapa Meme—mengambil alih kendali Warkop Cikiang. Di tangannya, nama warung resmi diubah menjadi Warkop Cikiang, menandai babak baru dalam sejarah panjang usaha keluarga ini.
Meme Nilawati bukan figur yang tumbuh jauh dari dunia kopi. Sejak kecil ia sudah berada di lingkungan warkop, menyaksikan langsung bagaimana sang kakek dan ayahnya menjaga kualitas demi kualitas. Namun hubungannya dengan sang kakek tidak selalu mulus. Tamfimin dikenal sebagai orang yang sangat disiplin—keras dalam mendidik cucu-cucunya. Meme masih mengingat bagaimana tangannya dipukul tiap kali menulis dengan tangan kiri, meski ia memang kidal sejak lahir.
“Dari cerita orang-orang, Kakek itu orangnya disiplin,” kenang Meme. Kedisiplinan itulah yang kini ia warisi dan terapkan dalam mengelola warkop: memastikan kopi selalu panas, kebersihan selalu terjaga, dan cita rasa tidak pernah bergeser sedikit pun dari pakem yang sudah dibangun sejak zaman Pimping.
Menu andalan Warkop Cikiang hingga hari ini tetap sederhana namun memiliki ciri khas tersendiri: kopi tradisional dan roti kaya. Kesederhanaan inilah justru yang membuat pelanggan selalu kembali. Di era kafe kekinian dengan menu-menu eksotis dan estetika Instagram yang dominan, Warkop Cikiang memilih jalur berbeda—setia pada akar.
Warkop ini bahkan pernah menerima penghargaan di masa awal kepemimpinan Andi Iwan, ketika pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada sepuluh restoran dan hotel berprestasi di Pinrang. Sebuah pengakuan resmi atas kontribusi dan konsistensi Warkop Cikiang dalam dunia kuliner lokal.
Nama-nama tokoh berpengaruh disebut pernah mampir ke warkop ini. Mulai dari pejabat daerah hingga keluarga petinggi kepolisian, Warkop Cikiang menjadi saksi bisu berbagai pertemuan informal yang mungkin turut membentuk sejarah Pinrang.
Meski menyimpan sejarah panjang, Meme tidak menutup mata terhadap tantangan yang mengintai. Kesulitan mencari karyawan yang mau dan mampu menjaga standar warkop menjadi hambatan utama. Mempertahankan warisan bukan perkara mudah, apalagi ketika generasi muda lebih tertarik pada pekerjaan di sektor lain.
Soal penerus, Meme hanya memiliki satu anak laki-laki. Harapannya sederhana: sang anak mau melanjutkan usaha yang sudah dirintis kakek buyutnya lebih dari seabad lalu. Namun ia juga menyadari, keputusan itu pada akhirnya ada di tangan sang anak.
Ada filosofi menarik yang dipegang teguh keluarga ini. Ayah Meme pernah berpesan sebuah prinsip dalam budaya Bugis: bahwa seseorang boleh berinteraksi dan berbaur dengan siapa saja, namun harus tetap mengenal diri sendiri dan akar budayanya. Pesan itu terasa relevan dalam konteks Warkop Cikiang—sebuah warung yang bertahan di tengah modernisasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Warkop Cikiang bukan sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang ingatan kolektif, tempat di mana sejarah Pinrang diseduh pelan-pelan dalam setiap cangkir yang dihidangkan. Lebih dari seratus tahun, tiga generasi, satu komitmen: menjaga kopi tetap panas dan cerita tetap hidup.
FAQ
Siapa pendiri Warkop Cikiang di Pinrang dan kapan warung ini berdiri?
Warkop Cikiang didirikan oleh Tamfimin, yang akrab disapa Pimping, sebelum Indonesia merdeka pada 1945. Warung ini telah berdiri lebih dari 100 tahun dan kini dikelola oleh cucu pendirinya, Nilawati Tamrin.
Apa menu khas yang menjadi andalan Warkop Cikiang?
Menu andalan Warkop Cikiang adalah kopi tradisional dan roti kaya, yang telah dipertahankan sejak zaman pendirinya dan menjadi ciri khas yang membedakannya dari warung kopi modern.
Apa tantangan terbesar yang dihadapi Warkop Cikiang saat ini?
Tantangan utama yang dihadapi Meme Nilawati sebagai pengelola generasi ketiga adalah sulitnya mendapatkan karyawan yang mau menjaga standar dan kualitas warkop, serta ketidakpastian soal penerus generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan