MAKASSAR, PUNGGAWAFOOD – Selama lebih dari enam dekade, semangkuk mie ayam Bakmi GM telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lidah jutaan orang Indonesia. Kini, warisan kuliner itu berpindah tangan ke salah satu konglomerat terbesar di negeri ini. Grup Djarum resmi mengakuisisi 85 persen saham Bakmi GM senilai Rp 2,1 triliun — sebuah angka yang menggemparkan industri makanan dan minuman nasional sekaligus memunculkan satu pertanyaan besar: apakah cita rasa legendaris itu akan tetap terjaga?

Untuk memahami mengapa transaksi ini begitu bernilai, kita perlu menelusuri asal-usulnya. Bakmi GM lahir pada 1959 dari sebuah lapak sederhana di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Pasangan suami istri Chaioo dan Loei Kuaivong mendirikannya dengan nama Bakmi Gajah Mada, mengandalkan tiga prinsip sederhana yang ternyata mematikan: konsistensi rasa, porsi yang memuaskan, dan pelayanan sehangatnya keluarga.

Strategi itu terbukti ampuh. Pada 1971, mereka membuka cabang ikonik kedua di Melawai, Jakarta Selatan. Dari sana, Bakmi Gajah Mada bertransformasi menjadi merek modern Bakmi GM dan terus berekspansi ke Bandung, Surabaya, hingga Bali.

Yang mengagumkan, Bakmi GM tetap kokoh berdiri di tengah gempuran tren kuliner modern — dari mie ayam kekinian hingga ramen Jepang. Rahasianya ada pada apa yang dalam dunia bisnis disebut brand equity dan loyalitas pelanggan yang kuat. Data publik mencatat pendapatan tahunan PT Griami Sejati, perusahaan induk Bakmi GM, mencapai sekitar Rp 700 miliar per tahun. Angka yang sangat sehat untuk bisnis kuliner yang mengelola seluruh gerainya secara mandiri tanpa sistem waralaba massal.

Pertanyaan yang wajar pun muncul: jika bisnis ini sehat dan menguntungkan, mengapa keluarga pendiri memutuskan menjualnya?



Follow Widget