Menurut Zainur, pendekatan itu terbukti ampuh sebagai strategi pemasaran awal. Rasa penasaran konsumen menjadi pintu masuk untuk menarik pembeli mencoba produk mereka. Bahkan, pada hari-hari pertama, banyak pelajar datang sekadar ingin mengetahui konsep di balik nama unik tersebut.

Tak hanya mengandalkan nama, mereka juga memperkuat promosi lewat pembuatan logo dan jingle khusus untuk media sosial. Upaya ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun identitas usaha yang mudah diingat.

Zainur menegaskan, dirinya dan rekan-rekannya tidak memiliki keterkaitan dengan program pemerintah maupun lembaga terkait. Mereka juga bukan bagian dari dapur resmi program mana pun. Seluruh produk yang dijual merupakan hasil titipan warga serta sebagian dibeli dari pasar tradisional.

Konsep kolaboratif itu, menurut dia, sekaligus menjadi cara memberdayakan pelaku usaha rumahan di sekitar lokasi. Dengan memanfaatkan momentum tren dan kreativitas dalam pemasaran, lapak sederhana ini kini berhasil mencuri perhatian di tengah persaingan bisnis kuliner ibu kota.



Follow Widget