Ciri khas Kong Djie yang paling ikonik adalah tiga ceret besar yang selalu tampak mengepulkan uap panas. Dulu, ceret yang digunakan berukuran kecil dan ditempatkan di dekat jendela. Kini, tiga ceret jumbo itu telah menjadi simbol kedai sekaligus penanda keberadaan Kong Djie di seantero Tanjung Pandan.

Barista di sini bukan sekadar pembuat kopi. Mereka hafal pesanan pelanggan setia tanpa perlu bertanya. Seorang pelanggan lama cukup duduk, dan secangkir kopi sesuai kebiasaannya sudah tersaji di meja. Kopi susu untuk yang satu, kopi hitam pahit untuk yang lain. Keakraban semacam ini nyaris tidak mungkin dijumpai di kedai kopi modern.

Harganya pun jauh dari kata mahal. Dengan merogoh kocek beberapa ribu hingga belasan ribu rupiah, segelas kopi lezat sudah bisa dinikmati. Bisa disajikan panas atau dingin, dengan gula saja atau dengan susu kental manis. Pilihan ada di tangan pelanggan, bukan di menu yang penuh jargon asing.

Lonjakan popularitas Kong Djie tidak bisa dilepaskan dari film Laskar Pelangi yang meledak pada 2008. Film itu membuka mata dunia bahwa Belitung bukan hanya pulau penghasil timah, melainkan destinasi wisata dengan pesona alam dan budaya yang kaya. Sejak itu, arus wisatawan yang masuk ke Belitung terus meningkat, dan Kong Djie ikut merasakan dampaknya.

Wisatawan yang datang kini tak hanya minum kopi di tempat. Mereka juga membeli bubuk kopi kemasan sebagai oleh-oleh khas Belitung. Satu bungkus kopi Kong Djie menjadi cara untuk membawa pulang sepotong kenangan dari pulau yang punya keindahan tak biasa itu.



Follow Widget