Di luar kopi racikan aslinya, ada inovasi yang menarik perhatian dari Belitung: kopi lada hitam. Sejak Maret 2018, seorang produsen lokal mencoba memadukan dua komoditas khas pulau ini — kopi dan lada hitam — menjadi satu minuman yang tidak biasa. Satu kilogram kopi dicampur dengan 100 gram lada hitam, menghasilkan minuman dengan karakter rasa yang kompleks: pahit dari kopi, pedas tajam dari lada.
Inovasi ini lahir dari kebutuhan untuk mendongkrak popularitas lada hitam Belitung. Menariknya, lada hitam di sini sempat dianggap sebagai “lada gagal” oleh sebagian petani yang lebih akrab dengan lada putih. Namun kini, lada hitam Belitung justru banyak dicari.
Kopi lada hitam disarankan diseduh hanya dua sendok teh per cangkir, mengingat rasa pedasnya yang cukup dominan. Tambahan krimer atau susu kental manis membuat minuman ini lebih seimbang — ada manis, ada pahit, dan ada sensasi pedas yang menyebar pelan-pelan di mulut. Cocok dikonsumsi saat cuaca dingin atau untuk yang kerap masuk angin.
Dalam sebulan, produsen kopi lada hitam Belitung mampu menghasilkan sekitar 200 toples kopi. Harga jualnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp90.000 per toples di toko oleh-oleh. Produk ini tidak hanya beredar di Belitung, tapi juga dikirim ke Jakarta dan kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Kisah Kong Djie dan kopi lada hitam Belitung adalah dua sisi dari satu koin yang sama: sebuah pulau yang tidak menanam kopi, tapi justru memiliki budaya kopi yang begitu kaya dan kreatif. Satu bertumpu pada tradisi yang dijaga selama 75 tahun, satu lagi lahir dari semangat inovasi yang mempertemukan dua rempah dalam satu cangkir.

Tinggalkan Balasan