Menjadi penerus bukan berarti sekadar menjaga—ia juga harus mengembangkan. Generasi kedua Cap Bemo menyadari bahwa dunia kopi berubah cepat. Tren specialty coffee, ragam metode seduh, hingga selera konsumen yang semakin teredukasi membuat ia tak bisa diam di tempat. Pengetahuan tentang jenis biji, teknik penyeduhan, hingga pengembangan menu minuman terus diperbarui.
Hasilnya terlihat nyata. Hari ini, Cap Bemo menawarkan lebih dari 50 varian kopi—30 jenis tersedia di gudang utama, dan 20 lainnya di toko yang kini dilengkapi dengan kedai kopi. Ada robusta, arabika, hingga house blend—racikan khas yang memadukan berbagai karakter biji dari seluruh Nusantara, dari Sabang hingga Merauke.
Ekspansi ke kedai kopi pun bukan keputusan sembarangan. Ide itu justru lahir dari permintaan pelanggan setia yang biasa membeli biji kopi. Mereka meminta tempat untuk menikmati kopi langsung—bukan hanya membawa pulang. Maka lahirlah Kedai Cap Bemo, yang lokasinya tetap di kawasan Pasar Rawa Mangun, sebagai bentuk komitmen untuk tidak meninggalkan akar.
Ada misi yang lebih besar di balik kehadiran kedai ini. Pemilik Cap Bemo berkolaborasi dengan Kepala Pasar Rawa Mangun untuk menghidupkan kembali geliat pasar tradisional yang mulai ditinggalkan. Di era ketika masyarakat semakin akrab dengan supermarket dan toko modern, kehadiran kedai kopi yang nyaman di dalam pasar tradisional menjadi magnet tersendiri.
“Mari kembali ke pasar tradisional, yang memang ini adalah budaya kita,” kata sang pemilik. Pasar tradisional, baginya, bukan sekadar tempat jual beli. Ini adalah ruang sosial—tempat orang bicara langsung, bertatap muka, dan membangun hubungan yang tak bisa digantikan oleh platform belanja daring mana pun.

Tinggalkan Balasan