Pelanggan Kedai Cap Bemo pun punya karakter khas. Setiap pagi pukul tujuh, para pensiunan sudah menempati kursi favorit mereka. Mereka datang bukan semata untuk kopi, tapi untuk mengobrol—bertukar cerita, menertawakan masa lalu, merayakan persahabatan yang telah terjalin puluhan tahun. Pukul sepuluh, mereka bubar. Giliran keluarga muda dan pekerja kantoran yang mengambil alih kursi-kursi itu.
Segmen pelanggan Cap Bemo memang terbilang unik: jarang ada pelajar atau mahasiswa yang mampir. Mayoritas adalah warga berusia produktif ke atas—mereka yang menghargai ketenangan, percakapan, dan secangkir kopi yang tidak perlu dijelaskan dengan istilah asing.
Kualitas tetap menjadi harga mati. Ketika harga biji kopi di pasar internasional bergejolak, Cap Bemo memilih menaikkan harga jual daripada menurunkan standar. Filosofi ini diwariskan langsung dari Rahman Lahirin dan terus dipegang teguh hingga hari ini. Rasa tidak boleh berkompromi—itulah satu-satunya janji yang selalu ditepati kepada pelanggan.
Diversifikasi produk juga terus berjalan. Cap Bemo kini melayani pemesanan dalam jumlah besar untuk acara—seperti pesanan 25 gelas kopi susu gula aren dari sebuah kelurahan di kawasan Pulau Gadung. Mereka juga menyediakan kemasan satu liter untuk dibawa pulang, serta one pouch espresso yang praktis untuk konsumen mobile. Segmen horeka—hotel, restoran, dan kafe—pun sudah menjadi bagian dari daftar pelanggan tetap mereka.
Tak berhenti di kopi, Cap Bemo juga memiliki warisan lain yang tak kalah panjang: toko kue dan jajanan pasar yang berdiri sejak era 1970-an. Dua usaha ini tumbuh beriringan—kopi dan camilan—melayani berbagai kalangan, dari ibu rumah tangga hingga pabrik-pabrik di kawasan industri Pulo Gadung yang rutin memesan untuk rapat mereka.

Tinggalkan Balasan