PUNGGAWAFOOD, TUBAN — Di sudut paling selatan Kabupaten Tuban, tepatnya di Desa Simo, Kecamatan Soko, sebuah warung sederhana telah berdiri kokoh selama lebih dari tiga dekade dan tak pernah sepi pengunjung. Warung Pecel Lele Mbak Rum, begitu tempat ini dikenal, telah menjadi ikon kuliner legendaris yang memikat warga dari berbagai penjuru, bahkan rela antre demi mencicipi sajian yang tak ada habisnya mengundang kerinduan.
Nama “Mbak Rum” sendiri kini menjadi kenangan. Sang pendiri telah berpulang, dan tongkat estafet diteruskan oleh Mbak Lilis, putri yang mewarisi resep sekaligus semangat ibunya. Warung ini pertama kali buka pada era 1990-an dan meski beberapa kali berpindah lokasi di sekitar wilayah Soko, pelanggan setia selalu tahu ke mana harus mencari. Letaknya yang berada di perbatasan Tuban dan Bojonegoro menjadikan warung ini juga mudah dijangkau dari dua arah.
Yang membuat Warung Mbak Rum begitu istimewa bukan sekadar umurnya yang panjang, melainkan pada konsistensi cita rasa yang dijaga tanpa kompromi. Menu andalan di sini adalah pecel lele dan ikan wader goreng kering yang disajikan bersama sambal mentah dadakan — sambal yang oleh banyak pelanggan dijuluki “sambal barbar” karena kepedasan dan kesegarannya yang sulit ditandingi. Sambal diulek langsung di depan pembeli menggunakan cabai, terasi, dan bumbu segar, tanpa dimasak, tanpa pengawet, dan bisa disesuaikan tingkat kepedasannya sesuai selera — mau pedas pol, sedang, atau tidak pedas sama sekali.
Proses memasak di warung ini pun masih mempertahankan kearifan lokal yang kian langka. Nasi dikukus menggunakan dandang di atas tungku kayu bakar — setiap dandang memuat hingga 6 kilogram beras dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk matang sempurna. Dalam sehari, proses pengukusan bisa berlangsung hingga lima kali putaran, mencerminkan betapa tingginya animo pengunjung yang datang silih berganti dari pagi hingga larut malam.
Tak hanya lele dan wader, warung ini juga menyediakan ayam goreng, tempe, dadar jagung manis, serta cemeding — olahan daun singkong rebus yang menjadi pelengkap wajib. Dadar jagung dibuat dari jagung manis segar yang diparut kasar, dicampur telur dan rempah, lalu digoreng tanpa dihaluskan agar teksturnya tetap krispi dan alami. Tomat segar digunakan hingga 10 kilogram per hari sebagai bahan pelengkap sambal, sementara proses pengulekan dilakukan secara manual dengan tenaga tangan — sebuah proses panjang yang justru menjadi bagian dari daya tarik warung ini.
Dari sisi harga, Warung Mbak Rum sangat ramah di kantong. Seporsi lele goreng dihargai Rp10.000 dan sudah mendapatkan dua ekor ikan, sementara ikan wader juga dipatok di angka yang sama. Pelas jagung dan tempe dihargai Rp1.000 per porsi, dan ayam goreng tersedia di kisaran Rp24.000. Setiap hidangan dilengkapi lalapan segar berupa timun, kemangi, dan tauge, serta sambal mentah yang menjadi bintang utamanya.
Warung ini buka setiap hari dari pagi hingga malam, kecuali hari Minggu yang menjadi hari istirahat para pekerja dapur yang telah berjibaku keras sepanjang pekan. Meskipun demikian, kehadiran hari-hari buka saja sudah cukup untuk membuat antrean mengular, terutama saat jam makan siang dan sore hari ketika rombongan pengunjung berdatangan serentak.
Bagi siapa pun yang melintas di Tuban bagian selatan atau sekadar ingin merasakan kuliner pedesaan Jawa yang otentik, Warung Pecel Lele Mbak Rum adalah destinasi yang tak boleh terlewatkan — sebuah warung kecil dengan warisan rasa yang besar.
ALAMAT / LOKASI WARUNG PECEL LELE MBAK RUM :Jl. Raya Soko 200 M arah utara Jembatan Glendeng, Kab. Tuban – Jawa Timur

Tinggalkan Balasan