Filosofi inilah yang mendasari keputusannya bertahan. Bu Ita bukan tidak memahami nilai uang Rp7 miliar. Ia paham betul. Tapi ia juga paham bahwa mencari lahan sekelas itu, di lokasi seprime itu, dengan akses sestrategis itu, adalah perkara yang jauh lebih sulit dari sekadar menerima cek berisi angka sembilan digit. Lokasi adalah segalanya dalam bisnis kuliner, dan ia sudah duduk di titik emas itu sejak lama.
Pihak pengembang pun akhirnya tidak bisa berbuat banyak. Secara hukum, tanah itu adalah milik Bu Ita yang sah. Tanpa kesepakatan, tidak ada yang bisa memaksanya pindah. Maka berdirilah Rita Supermall Purwokerto, megah dan luas, namun harus merelakan satu bangunan merah dua lantai tetap bercokol di sudut strategisnya, seolah menjadi pengingat bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang.
Yang lebih menarik, kehadiran mal besar itu justru memberi berkah tak terduga bagi Rumah Makan Padang Sabananyo. Ketika Rita Supermall resmi beroperasi pada 2016, arus pengunjung di kawasan itu meledak. Ribuan orang datang setiap hari untuk berbelanja, menonton, dan menikmati hiburan. Dan di antara perjalanan mereka, aroma masakan Padang dari bangunan merah Bu Ita kerap menjadi magnet tersendiri.
Rumah makan itu tidak sekadar bertahan, ia berkembang. Para pengunjung mal yang kelelahan berputar-putar di dalam gedung berpendingin sering kali memilih keluar sebentar dan mampir ke warung Bu Ita untuk makan siang atau sekadar mencari cita rasa yang lebih akrab di lidah. Nasi Padang dengan lauk berlimpah terasa jauh lebih mengenyangkan dan terjangkau dibanding gerai makanan di dalam mal.
Sabananyo dalam bahasa Minang berarti “sebenarnya” atau bisa diartikan sebagai “yang sesungguhnya.” Nama itu seolah sengaja dipilih untuk menegaskan bahwa di tengah gemerlap pusat perbelanjaan modern, ada yang tetap nyata dan tidak berpura-pura, yaitu masakan Padang autentik yang dimasak dengan cara lama dan penuh rasa.

Tinggalkan Balasan