Dalam dunia bisnis kuliner yang sangat kompetitif, bertahan selama dua dekade di satu lokasi adalah pencapaian yang tidak mudah. Banyak restoran besar dengan modal berlimpah pun tidak mampu melewati ujian waktu sepanjang itu. Namun Sabananyo melakukannya dengan cara yang sangat sederhana, menjaga kualitas, mempertahankan lokasi, dan tidak terburu-buru mengikuti tren yang datang silih berganti.

Bu Ita pernah menyampaikan dalam beberapa kesempatan bahwa ia tidak pernah menyesal menolak tawaran miliaran rupiah itu. Rezeki, katanya, datang dalam berbagai bentuk, dan ia memilih bentuk yang paling ia yakini, yaitu dapur yang terus menyala, piring yang terus berpindah tangan, dan senyum pelanggan yang pulang dengan perut kenyang.

Rita Supermall Purwokerto terus berkembang dan berbenah dari tahun ke tahun. Tenant datang dan pergi, tren kuliner berganti-ganti, nama-nama besar hadir dan kadang pula pergi. Namun bangunan merah dua lantai di sudut lobi itu tidak kemana-mana. Ia tetap di sana, berdiri tegak, mengepulkan asap masakan Padang ke udara Purwokerto setiap hari, seolah hendak mengatakan bahwa beberapa hal memang tidak perlu berubah untuk tetap berharga.

Kisah Rumah Makan Padang Sabananyo adalah cerminan nyata bahwa kadang kekuatan terbesar seorang pengusaha kecil bukan modal besar atau jaringan luas, melainkan keyakinan pada nilai apa yang ia miliki dan keberanian untuk tidak menjualnya di bawah harga yang ia yakini layak. Dan dalam kasus Bu Ita, harga yang layak itu ternyata bukan angka di atas secarik kertas, melainkan kelangsungan hidup dan sumber rezeki yang ia wariskan kepada keluarganya, hari demi hari, dari dapur yang tidak pernah padam.



Follow Widget