Komposisi dasarnya pun sudah dapat dikenali sejak awal — mie, tauge, dan kuah kaldu sapi dengan kikil sebagai unsur yang kemudian menjadi ciri khasnya. Meski tiap penjual memiliki racikan berbeda, identitas dasarnya tetap mudah dikenali.

Pertanyaan tentang siapa yang pertama kali menciptakan Mie Kocok hingga kini belum terjawab. Tidak ada satu nama pun yang dapat diverifikasi sebagai pencipta pertama hidangan ini. Mie Kocok lebih tepat dipahami sebagai kuliner yang lahir dari praktik memasak masyarakat Bandung secara kolektif — bukan dari dapur seorang tokoh tertentu.

Ketiadaan nama pencipta bukan berarti sejarahnya kosong. Justru sebaliknya, bukti 1947 memberikan landasan yang kuat: pada masa itu, Mie Kocok sudah dikenal, diperjualbelikan, dan cukup populer untuk masuk dalam iklan restoran.

Memasuki era 1950-an hingga 1960-an, perkembangan Mie Kocok mulai terdokumentasikan lebih jelas. R. Simatupang dalam buku Pedoman Tamas Jawa Barat yang diterbitkan Kengpo pada 1961 menyebut mie kocok sebagai salah satu makanan yang dikenal di Bandung, termasuk di kawasan Kebon Tangkil atau Gardu Jati.

Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) juga mencatat beberapa kawasan yang identik dengan kehadiran Mie Kocok, seperti Bojong Loa, Pasir Kaliki, dan sekitar Kebun Binatang Bandung. Mie Kocok tidak terkonsentrasi di satu titik — ia menyebar ke berbagai penjuru kota.



Follow Widget