Salah satu faktor penyebarannya adalah model penjualan keliling. Para pedagang tidak menunggu pembeli datang ke warung. Mereka menggendong pikulan berisi bahan, peralatan, dan kuah, lalu mendatangi permukiman dan pusat aktivitas warga. Cara berdagang seperti ini membuat Mie Kocok dikenal oleh banyak lapisan masyarakat di berbagai sudut Bandung.

Beberapa nama usaha kemudian mulai muncul dalam catatan sejarah kuliner Bandung. Mie Kocok Mangdadeng, misalnya, tercatat dalam penelitian Universitas Pendidikan Indonesia sebagai kuliner legendaris dengan tahun berdiri 1958 di Jalan Banteng — kini dikenal sebagai Jalan KH Ahmad Dahlan. Sumber populer lainnya menyebut gerai ini sudah beroperasi sejak 1953. Perbedaan angka itu mencerminkan pentingnya membedakan antara cerita awal mula keluarga berjualan dengan tahun yang terdokumentasi secara akademis.

Ada pula Mie Kocok Haji Endan yang mulai berjualan keliling sekitar tahun 1960 sebelum akhirnya membuka warung tetap. Kemudian pada 1963, muncul usaha yang belakangan dikenal sebagai Mie Kocok Persip. Nama “Persip” bukan berasal dari klub sepak bola, melainkan dari lokasi usaha yang berdekatan dengan Stadion Persip Siliwangi — sehingga pelanggan menyebutnya demikian.

Perubahan dari pikulan ke gerobak, lalu ke warung tetap, bukan perubahan kecil. Ini adalah lompatan kapasitas: pedagang bisa membawa lebih banyak peralatan, melayani lebih banyak pelanggan, dan membangun loyalitas pembeli yang datang ke satu tempat secara berulang.

Seiring bertambahnya penjual, variasi penyajian pun berkembang. Ada yang menambahkan bakso, tetelan, iga, bahkan sumsum. Ada pula yang mempertahankan komposisi paling sederhana. Namun satu teknik tetap menjadi penanda: mie dan tauge dimasak cepat dalam saringan, lalu disiram kuah kaldu panas di atas mangkuk. Teknik inilah yang menjaga benang merah antara nama dan cara penyajiannya.



Follow Widget